Minggu, 26 Desember 2021

Pemberontak Durjana

Aku sangat muak dengan semua yang ada dibawah atap ini. Dengan jiwa yang hidup bersamanya, dengan suara yang hanya menarik cemas berkepanjangan. Rasa yang dibuat menyelimuti ruangan dengan warna suram penindasan kejam.

Mereka tau bahwa kuingin berteriak mengabarkan duka warta. Maka semakin ditebalkannya selimut yang mengelilingi ruang gerak tempatku berangan. Dikandung seorang ibu terasa seperti tawanan atas pertaruhan jiwa untuk melihat dari bawah selamanya, rela membuka lebar telapak tangan untuk membawa kaki lengkap dengan tumit tingginya. Meneriaki raga yang entah kemana jiwanya melayang, tapi tidak mengalirkan air untuk membiarkannya meresapi pintasan rasa dahaga.

Dentuman dari luar, sempat menggoyahkan setiap yang bernyawa dibawah atap itu. Andai saja bisa memilih. Ah.. andai saja bisa memilih. Maka tiadalah aku sekarang ini. Semua terjadi begitu cepat namun cukup kuat mengikat, namun mereka pun tak sungguh-sungguh mengerti harus menginjakkan kakinya kemana.



Lalu harus kemana aku melepas amarah ? Bolehkah sekali saja kupinjam rasa marah yang selalu terlihat melimpah disana ? Mungkinkah seorang sepertiku disebut sebagai jiwa pemberontak durjana yang durhaka nan kesal hatinya ? Bahkan aku sangat takut apakah aku berhak untuk menangis dan mengasihani jiwa dibawahnya.  

Tuhan, aku ingin segera pulang. Tuhan… sungguh aku berkata ingin segera pulang! Tuhan… kulakukan setiap hari mempersiapkan perjalanan untuk pulang. Tuhaaaan… kusiapkan baju terbaik untuk perisai diri melawan arus yang mungkin terjadi ketika aku salah memilih jalan. Tuhan, aku hanya seorang kecil yang mengharap sebuah pertemuan untuk mengakhiri penderitaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tercekat lidahku malam ini, satu pil ku teguk untuk menahan pelik di kepala Saat ini aku hanya sedang mengasihani diriku untuk tahun-tahun s...