Aku sangat muak
dengan semua yang ada dibawah atap ini. Dengan jiwa yang hidup bersamanya,
dengan suara yang hanya menarik cemas berkepanjangan. Rasa yang dibuat
menyelimuti ruangan dengan warna suram penindasan kejam.
Mereka tau bahwa
kuingin berteriak mengabarkan duka warta. Maka semakin ditebalkannya selimut
yang mengelilingi ruang gerak tempatku berangan. Dikandung seorang ibu terasa
seperti tawanan atas pertaruhan jiwa untuk melihat dari bawah selamanya, rela
membuka lebar telapak tangan untuk membawa kaki lengkap dengan tumit tingginya.
Meneriaki raga yang entah kemana jiwanya melayang, tapi tidak mengalirkan air
untuk membiarkannya meresapi pintasan rasa dahaga.
Dentuman dari luar,
sempat menggoyahkan setiap yang bernyawa dibawah atap itu. Andai saja bisa
memilih. Ah.. andai saja bisa memilih. Maka tiadalah aku sekarang ini. Semua
terjadi begitu cepat namun cukup kuat mengikat, namun mereka pun tak
sungguh-sungguh mengerti harus menginjakkan kakinya kemana.
Lalu harus kemana aku
melepas amarah ? Bolehkah sekali saja kupinjam rasa marah yang selalu terlihat
melimpah disana ? Mungkinkah seorang sepertiku disebut sebagai jiwa pemberontak
durjana yang durhaka nan kesal hatinya ? Bahkan aku sangat takut apakah aku
berhak untuk menangis dan mengasihani jiwa dibawahnya.
Tuhan, aku ingin
segera pulang. Tuhan… sungguh aku berkata ingin segera pulang! Tuhan… kulakukan
setiap hari mempersiapkan perjalanan untuk pulang. Tuhaaaan… kusiapkan baju
terbaik untuk perisai diri melawan arus yang mungkin terjadi ketika aku salah
memilih jalan. Tuhan, aku hanya seorang kecil yang mengharap sebuah pertemuan
untuk mengakhiri penderitaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar